Cerita Kopi Indonesia

Write By: admin Published In: Kopi di Indonesia Created Date: 2014-12-06 Hits: 1667

Tak hanya kafe modern, warung kopi tradisional pun selalu menjadi incaran. Dibandingkan dengan minum teh, budaya ngopi masih lebih digandrungi di Indonesia. Boleh dibilang, dengan meneguk secangkir kopi, bisa membangkitkan semangat dalam sehari. Tak heran, jika kedai kopi pun bermunclan di tanah air. Mulai dari warung kopi sederhana hingga kafe dengan merk impor selalu penuh sesak oleh pengunjung.

Jika mau di runut, budaya minum kopi ini sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Buktinya, saat ini Indonesia termasuk urutan ketiga penghasil kopi terbesar di dunia, setelah Brasil dan Kolombia. Patut dibanggakan bukan? Walau "warung kopi" berlabel immpor dengan sederet minuman seperti latte, machiato hingga cafe mocha sudah merajai pasar bukan berarti negeri ini tidak punya ciri khas dalam menikmati kopi yang dihasilkannya sendiri.

Kopi diperkenalkan ke Indonesia lewat Srilanka. Dahulu pemerintah Belanda sering menanam kopi di daerah sekitar Batavia, Sukabumi dan Bogor. Kopi juga di tanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera dan Sulawesi. Makanya jangan heran jika kopi ditemukan dengan mudahnya di berbagai daerah Indonesia.

Di angkringan malam di Yogyakarta, selain wedang teh juga tersedia kopi joss. Kopi joss terbuat dari campuran kopi tubruk yang kental dan panas dengan arang. Arang ini bukan sembarang arang melainkan arang yang masih panas membara dan di ambil langsung dari tungku, lalu di taruh di dalam gelas. Saat itulah berbunyi "joss", makanya disebut istilah kopi joss. Kopi joss biasanya dinikmati dengan jajanan ringan seperti kacang rebus, pisang goreng dan lainnya.
http://travel.detik.com/read/2012/07/02/090200/1955259/1025/kopi-joss-suguhan-spesial-dari-yogyakarta

Selain kopi joss, negeri ini masih punya kopi dengan ciri khas tersendiri di kota lainnya. Salah satunya kota Manado, salah satu kota yang masyarakatnya memiliki tradisi minum kopi yang kuat. Bayangkan saja, seorang penikmat kopi sejati bisa keluar masuk rumah kopi tiga kali dalam sehari. Bahkan di kota ini terdapat satu ruas jalan yang dipenuhi dengan kedai kopi yang terkenal dengan nama jalan roda.
http://sosbud.kompasiana.com/2014/04/02/jalan-roda-kopi-hitam-dan-diskusi-politik-sederhana-645993.html
Konon budaya minum kopi ini di mulai ketika seorang imigran asal pulau Hainan turun di Manado untuk pertama kalinya dan kemudian membuka warung kopi.

Selain kopi hitam, di kawasan ini populer kopi goraka yaitu kopi jahe khas Gorontalo. Ada juga beberapa kedai khusus yang menjual kopi kenari dengan biji kenari sangrai di rajang kasar ditaburkan di atas kopi panas. Cara ini hampir sama dengan tradisi orang Perancis yang menaburkan kacang pine sangrai ke dalam teh panas. Sebagai pendamping roti, tersedia panada (seperti roti bantal berisi tumis daging sapi pedas), lalampa (lemper isi tuna) hingga lemang.

Selaras dengan di Manado, cara menyeduh kopi di Aceh pun boleh di bilang merupakan adaptasi dari cara menyeduh minuman kopi di semenanjung Malaya yang di kenal sebagai kopi Hainan. Kopinya di seduh dengan menggunakan saringan yang bentuknya mirip kaos kaki. Lalu kopi dituangkan secara berpindah-pndah dari satu teko ke teko lainnya. Hasilnya, tentu saja minuman kopi yang sangat pekat, wangi tapi tidak mengandung bubuk kopi. Penyeduhan kopi dengan menggunakan kaus ini juga merambah ke wilayah Medan, Siantar, Batam, Tanjungpinang, Pekanbaru, Padang, Bukittinggi, Jambi, Palembang, Jakarta (daerah Glodok), Pontianak hingga Makasar.

Di beberapa rumah kopi di kota-kota tersebut banyak sekali kesamaan untuk cara menyeduh kopinya. Untuk memasak airnya, banyak rumah kopi yang menggunakan arang, agar aroma asapnya terasa lebih terassa di dalam minuman kopinya. Sedangkan untuk jenis kopinya, tergantung pada selera masyarakat setempat. Umumnya mereka lebih memilih kopi lokal dari daerahnya masing-masing. Contohnya saja kopi Mandailing dan Kopi Lintong. Mandailing dinamakan menurut suku Batak Mandailing di Sumatera Utara. Kopi Lintong sendiri dinamakan menurut nama tempat Lintong di Sumatera Utara juga. Sedangkan kopi Gayo berasal dari dataran tinggi Gayo, Gayo sendiri adalah nama suku asli di Aceh yang meliputi kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kopi Gayo di sebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia.

Dalam mempertahankan tradisi minum kopi ala Hainan, ibukota di Kalimantan Barat, Pontianak yag masih kental dalam menyajikan budaya minum kopi ala Hainan. Warung kopi bertebaran hingga saat pagi menjelang setiap warung kopi penuh sesak oleh orang-orang yang ingin menikmati secangkir kopi.

 

Sumber : Kulinologi Indonesia